CBM Trafo: Studi Kasus Trafo 30MVA PKS yang Diselamatkan dari Breakdown
Program CBM (Condition Based Monitoring) bukan hanya teori — ini adalah investasi nyata yang bisa menghemat miliaran rupiah. Berikut studi kasus nyata bagaimana PT TEM mendeteksi kerusakan kritis pada trafo 30MVA di pabrik kelapa sawit (PKS) Kalimantan sebelum terjadi breakdown total.
Latar Belakang Kasus
Sebuah pabrik kelapa sawit (PKS) di Kalimantan Tengah mengoperasikan trafo utama 30MVA 150/6kV yang sudah beroperasi 14 tahun. Tidak ada program monitoring rutin — hanya visual inspection tahunan. Tim operasi merasa “trafo baik-baik saja” karena tidak ada gangguan yang terasa.
Temuan Pertama: DGA Menunjukkan Anomali
PT TEM melakukan pengambilan sampel minyak trafo untuk DGA sebagai bagian dari survei awal program CBM. Hasil DGA mengejutkan:
| Parameter | Hasil Test | Batas Normal | Status |
|---|---|---|---|
| H2 (Hidrogen) | 380 ppm | <100 ppm | KRITIS |
| CH4 (Metana) | 245 ppm | <120 ppm | Waspada |
| C2H2 (Asetilena) | 18 ppm | <3 ppm | KRITIS |
| C2H4 (Etilena) | 190 ppm | <80 ppm | KRITIS |
| TDCG | 1.250 ppm | <720 ppm | KRITIS |
Interpretasi Duval Triangle: C2H2/(C2H2+C2H4+CH4) = 18/453 = 4%, C2H4/453 = 42%, CH4/453 = 54% → Zona D1/DT (Discharge + Thermal). Ada indikasi arcing internal ringan disertai overheating.
Konfirmasi dengan SFRA Test
Untuk mengkonfirmasi apakah ada kerusakan mekanik pada winding, PT TEM melakukan SFRA (Sweep Frequency Response Analysis) menggunakan FRANEO 800. Hasilnya dibandingkan dengan fingerprint awal (test sebelumnya atau trafo identik).
Temuan SFRA:
- Frekuensi rendah (10Hz – 1kHz): Deviasi minor, dalam batas normal
- Frekuensi menengah (1kHz – 100kHz): Deviasi signifikan pada fasa R → indikasi winding deformation atau loose winding support
- Frekuensi tinggi (100kHz – 2MHz): Normal
Keputusan dan Tindakan
Berdasarkan DGA (zona D1/DT) + SFRA (deformasi winding), PT TEM merekomendasikan:
- Kurangi beban trafo segera ke 70% kapasitas (dari 95% operating)
- DGA ulang dalam 4 minggu untuk memantau tren gas
- Rencanakan shutdown dalam 3 bulan untuk inspeksi internal dan perbaikan
- Siapkan trafo cadangan atau rental trafo mobile sebagai backup
DGA ulang 4 minggu kemudian: H2 turun dari 380 ke 290 ppm (penurunan karena beban dikurangi), C2H2 stabil di 20 ppm. Tren terkontrol, shutdown direncanakan pada maintenance shutdown tahunan PKS (3 bulan kemudian).
Hasil Inspeksi Internal
Saat shutdown PKS, trafo dibuka untuk inspeksi internal. Temuan:
- Winding fasa R: 3 titik kerusakan minor pada conductor insulation, 1 titik arc mark kecil
- Core: kondisi normal
- Bushing: aging, perlu diganti
- Minyak trafo: warna coklat gelap, BDV hanya 28kV/2.5mm (jauh di bawah standar 60kV)
Tindakan perbaikan: rewinding fasa R, ganti bushing, purifikasi total minyak trafo. Biaya perbaikan: Rp 1,8 miliar.
Mulai Program CBM Trafo Anda Sekarang
Lebih murah CBM rutin daripada breakdown. Trafo 30MVA baru = Rp 8-12 miliar. Program CBM PT TEM setahun = Rp 150-300 juta.
ROI Program CBM: Perhitungan Nyata
| Skenario | Tanpa CBM | Dengan CBM |
|---|---|---|
| Biaya trafo baru 30MVA | Rp 8-12 miliar | Rp 0 (dicegah) |
| Downtime produksi PKS (30 hari) | Rp 15+ miliar | Rp 1-2 miliar (shutdown terencana) |
| Biaya perbaikan | Rp 1,8 miliar (sama) | Rp 1,8 miliar |
| Biaya program CBM 3 tahun | Rp 0 | Rp 450 juta |
| Total biaya | Rp 26+ miliar | Rp 4,25 miliar |
Penghematan: Rp 22+ miliar hanya dari satu trafo dalam satu kasus.
Artikel & Layanan Terkait
Program CBM Trafo
SFRA + DGA + Tan Delta + thermografi. Program 6/12 bulan untuk trafo kritis Anda.
Oil Analysis DGA
DGA, BDV, moisture, furan. Deteksi gangguan internal trafo sebelum terlambat.
Sewa SFRA FRANEO 800
Wet rent SFRA dengan operator. Rp 10.500.000/hari. Seluruh Indonesia.
Butuh Alat atau Jasa Terkait?
PT Tridaya Elektra Mandiri — alat terkalibrasi, operator bersertifikat, seluruh Indonesia